[puisi] Napak Tilas Sang Da’i

Aku adalah penyeru …
Yang mengajak pada syurga,
tapi aku bukan pelawak,
layaknya stand up komedian

Di lain waktu aku ucapkan pesan dari syurga
agar semua terkesima, agar semua mau kuajak bersama
ke sana …
Lalu menyanyi, menari …
Sayang, ternyata mereka membawa syurga itu
ke alam ini …
mereka menari, mereka menyanyi…

Waktu tak pelit denganku, hingga kubawakan pujangga …
Ya, dari syurga … Agar mereka terpukau
Lalu ikut melangkah denganku menuju syurga,
namun sayang, mereka juga menciptakan pujangga,
bobrok namun sering dilihat,
hinga seolah indah dalam sepenglihat …

Ku tak putus asa bernegosiasi lagi dengan waktu,
sehinga kubawakan biduan dan biduanita syurga di depan mereka,
namun, terlambat sudah, mereka telah terhipnotis …
dengan biduan dan biduanita dunia,
lalu ikut menari, ikut menyanyi di sana …
sementara mereka terus saja lupa …

[puisi] Tiga Dimensi

Alih-alih tersenyum …

menengadahkan wajah ke langit saja aku enggan.

Seakan langit itu ingin meruntuhiku,

dengan segala amarahnya.

Lalu mentari akan menghakimiku dengan cambuk apinya

dan teriknya yang kian membakar kulit.

 

Alangkah nistanya diri ini,

yang kian menghidupi diri dengan berbagai harta berapi,

dengan dikenyangkan harta-harta ribawi,

maksiat pun tak asing lagi.

Ah, meredupkan cahaya dalam rongga hati.

Hingga kalap menilap harta negeri ini.

Lalu menari bersama bidadari berambut api.

 

Allah,

lalu akankah terus ini kau biarkan terjadi,

sementara di sudut sana anak kecil merintih,

dipaksa mengemis,

direnggut haknya untuk mengais ilmu

di sini disampingku, bersama senyumku …

Lalu redup kembali.

 

Share

[puisi] Hanya Aku dan Tuhan yang Tahu

Perihal yang sejak tadi kupusingkan

bukanlah perihal yang aneh.

Mungkin bahkan sepele.

Langit pun cuek bebek

dengan raum-raum seru hatiku

Hanya Aku dan Tuhan yang tahu.

 

Mungkin saat kurasakan ini,

sebelumnya sempat ada cinta yang telah tumbuh.

Dan langit tetap menganggapnya gaulan anak SMA,

hingga aku minder dan kutinggalkan itu.

Tapi benih yang baru ini telah mengecambah,

biarkah kegamangan untuk menyiramninya membiarkannya layu,

sementara aku berjibaku dalam egoisme langit yang tahu segalanya.

Hanya Aku dan Tuhan yang tahu …

 

Akan rasa ini,

cinta yang hanya sedetik lalu mati,

ataukah rasa sejati.

Dan aku takut untuk menerkanya,

dan aku galau dalam membimbangnya.

Ah …

Hanya Aku dan Tuhan yang tahu,

akan cintaku,

akan rasaku … selagi waktu tak menghakimiku,

aku berhak menekurinya

Share

[puisi] Kumohon Tuhan, Dalam Pengakuan Hamba Nista

Menggeretuk gigi gemetar.

Dalam kehalusinasian langit seolah runtuh.

Mengucapkan serapahan maki bertubi bagai hujan halilintar.

Kicauan burung hantu dalam kegelapan hutan memekik,

seolah ingin menusukku dengan panah suaranya.

Sekejap lelap dalam senyap tersisia rintihku.

 

Tuhan!

Diri ini adalah seonggok kenistaan nyata.

Bergumul dalam hasrat durjana penuh asap neraka.

Berulang kali kulakukan pengakuan ini,

berualang kali pula langit menghujamku dan menghakimiku,

hingga tercekat menduri nafas di tenggorokan.

Lalu, lava panas mengalir dalam ketakberdayaan seseguk tangisan.

Ya, laguku mendayu mengharu biru dalam pangku-Mu

Tetaplah genggam aku …

 

Tuhan!

Badai kekejaman birahi itu selalu datang dan pergi,

bagai hantu malam yang menderit

dalam setiap hebusan angin menerpa ranting pepohonan.

Membuatku ngilu dan terhipnotis lembayungnya

Aku tak mau sejuta langit menghujamkan halilintar itu lagi!

Sudah, Tuhan, peluk aku …

dalam kerapuhanku.

Aku inginkan terus mendaki tali kasihmu,

sokong aku,

Jangan biarkan derit pepohonan itu menjatuhkanku lagi

dengan suara ngilu yang memilukan…

Jangan …

Kumohon Tuhan…

 

Sebuah puisi persembahan malam, pada 25 Maret 2012

Share

[puisi] Kebisingan Sunyi

Kuhirup hawa ruang ini

Dan kurasakan wangi yang sama

berteman senandung bising menjajal telinga

dai kedalaman hati kurasakan kekosongan

hampir di setiap malam

malam-malam kian kelam bersama mimpi

mimpi tenggelam

Sejenak terpekur. Hendak apa?

Gundah gulana tanpa gerak raga

dalam kebisingan ruang ini

kejadian-kejadian dalam hidupku kurkam

sebagai golden memory

dalam kebisingan yang sunyi

Kularutkan fikirku dalam start recording

menggiling roda-roda ingatan

menyimpan nada, suara, warna, tawa

semua ada, dalam kebisingan sunyi

bersama hati, kuucap syukur

hingga akhirnya kubangun

dari kekosongan hati

bersama teman sejati

Share